Mengapa Tata Cara Shalat Berbeda-beda ?

By in Artikel Muslim on April 11, 2014

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”


Pertanyaan :

Ustadz,

Saya adalah orang Islam dan Insya Allah tidak akan mati dalam keadaan bukan Islam. Saya memang awam agama, tapi saya punya keyakinan bahwa Islam adalah Agama yang paling baik dan satu-satunya.

 

Terus terang, mengenai sholat, saya sholat sebagaimana orang orang yang sholat bersama saat itu (Menyesuaikan lingkungan, asalkan tidak terlalu menyimpang dari ukuran saya sendiri), karena hati yang dalam saya mengatakan, Allah Maha Tahu dan Maha Bijaksana.

 

Sepengetahuan saya, tata cara (rukun) sholat tidak diatur begitu rinci di Al-Qur’an sebagaimana hukum Warisan (Saya juga tidak tahu mengapa dan apa rahasia di balik itu).

 

Yang saya ketahui selama ini, hanya terdapat dalam Hadist dan itupun tidak secara rinci langsung diuraikan olehNabi Muhammmad SAW(saya juga tidak tahu mengapa demikian dan apa rahasia di balik itu).

 

Beliau hanya bersabda kira-kira begini “Sholatlah sebagaimana aku Sholat.” Orang-orang yang pernah melihat atau mengalami sholat bersama Nabi, baru menceritakan bagaimana Beliau sholat.

 

Hal yang terjadi kemudian adalah, bahwa banyak sekali perbedaan yang ada selama ini (mulai gerakan secara pisik maupun bacaan-bacaannya apakah diucapkan atau tidak, dikeraskan atau tidak, dan sebagainya).

 

Jika Nabi Sholat bersama umatnya hanya sekali atau dua kali saja, mungkin terjadinya perbedaan-perbedaan dapat segera dimaklumi. Tapi nyatanya khan tidak begitu. Yang menjadi lebih aneh lagi adalah kenyataan bahwa Islam dikenal sebagai Agama yang paling lengkap dalam perunutan hukum-hukumnya (Penulisan Hadist dan menjaga kemurnian Al-Qur’an). “Mencontoh sholat yang dikerjakan Nabi sebanyak puluhan ribu kali kok masih ada perbedaannya.”

 

Yang jelas, saya yakin betul bahwa bagaimana Nabi Sholat adalah konsisten.

 

Bagaimana keterangan Ustazd.

 

 

 

Jawaban :

 

Mengenai apa yang anda tanyakan saat ini, memang kami setuju sekali. Seharusnya tata cara shalat itu simple, praktis dan sederhana. Tidak harus menguras otak, apalagi harus sampai menimbulkan silang sengketa, saling caci maki, bahkan ada yang sampai merasa harus memboikot saudaranya, hanya lantaran urusan beda tempat meletakkan tangan saat shalat.

Beberapa Faktor Penyebab

Kalau coba kita renungkan mengapa seolah shalat itu jadi urusan yang berbelit, barangkali ada benarnya beberapa hal berikut ini:

1. Ada Perbedaan Dari Sumber

Banyak dari kita yang masih berpikir seharusnya shalat nabi SAW itu merupakan sesuatu yang konsisten, termasuk dalam hal ini anda. Dalam bagian akhir pertanyaan anda itu, jelas sekali anda menyebutkan, “Yang jelas, saya yakin betul bahwa bagaimana Nabi Sholat adalah konsisten.”

Padahal boleh jadi Rasulullah SAW tidak melakukan apa yang anda katakan sebagai ‘kekonsistenan’ itu. Dalam kitab Sifat Shalat Nabi tulisan SyeikhAl-Albani, seringkali menyebutkan istilah “kadang-kadang.” Kadang-kadang Nabi SAW melakukan ini dan kadang kala lainnya beliau melakukan itu. Itu artinya beliau tidak selalu konsisten seperti yang anda duga.

Jadi boleh dibilang bahwa beliau SAW sendiri sebagai sumber rujukan shalat tidak selalu konsisten dengan gerakan atau bacaan tertentu. Sebaliknya, beliau seringkali bergonta-ganti gerakan dan juga bacaan. Dan nyatanya memang tidak ada dalil dari beliau SAWsendiri, yang menegaskan keharusan untuk konsisten dalam gerakan dan bacaan shalat.

Sekedar untuk perbandingan saja, dahulu di masa khalifah Utsman bin Al-Affan radhiyallahu ‘anhu, pernah terjadi perselisihan antara beberapa qari‘ atau pembaca Al-Quran.Titik pangkal masalahnya adalah karenamasing-masing merasa bacaannya adalah bacaan yang benar dan bersikeras untuk menyalahkan bacaan saudaranya, yang dianggapnya salah dan bid’ah (mengada-ada).

Setelah dikumpulkan oleh para shahat yang senior, menjadi jelaslah titik pangkalnya. Ternyata Al-Quran itu sendiri dahulu turun dengan lughah (dialek) yang berbeda. Bahkan kita mengenal ada qiraah sab’ah. Di mana bacaan yang satu boleh jadi sangat berbeda dengan bacaan yang lain. Padahal semuanya adalah ayat Al-Quran, semua turun dari Malaikat Jibril ‘alaihissalam serta diriwayatkan secara mutawatir kepada kita.

Maka kalau dalam shalat Rasulullah SW ada’ketidak-konsistenan’, sangat logis dan masuk akal. Memang jarang di antara kita yang pernah mendengar qiraat yang berbeda. Cobalah sesekali belajar qiraat dengan metode talaqgi kepada ustadz atau qari‘ yang punya sanad sampai ke Rasulullah SAW, maka kita akan tahu bahwa ternyata bacaan Quran itu begitu banyak versinya.

2. Perbedaan Interpretasi Shahabat Yang Melihat Rasulullah SAW Shalat

Ada beberapa riwayat yang kelihatan sepintas berbeda, namun ternyata kejadiannya sama. Kenapa jadi berbeda? Ternyata beberapa shahabat memiliki interpratasi atau penafsiran yang berbeda atas suatu kejadian.

Ambil contoh yang paling sering kali sebutkan, tentang shalat Ashar di Perkampungan Bani Quraidhazh. Rasulullah SAW berpesan kepada para shahabat untuk tidak shalat Ashar kecuali di perkampungan yang berisi orang yahudi itu.

Namun ketika matahari hampir tenggelam dan mereka belum shalat Ashar, sebagian dari mereka turun dari kuda dan melakukan shalat Ashar di jalan, tanpa mempedulikan pesan nabi untuk tidak shalat Ashar kecuali setelah sampai.

Sementara kelompok shahabat yang lainnya, meneruskan perjalanan tanpa shalat Ashar, meski sudah masuk waktu Maghrib. Maka pendapat para shahabat nabi yang mendengar langsung pesan itu tetap terpecah dua.

Ketika akhirnya dikonfrontir kepada Rasulullah SAW, hasilnya ajaib!!!. Ternyata beliau SAW tidak menyalahkan salah satu pihak. Keduanya dianggap benar dan tidak ada yang salah.

Danketika ada riwayat menyebutkan bahwa ketika duduk tasyahhud Rasulullah SAW menggerakkan jarinya, ada yang menilainya itu merupakan bagian dari ritual ibadah shalat. Tapi ada juga yang mengatakan gerakan jari itu semata-mata karena suasana sangat dingin, sehingga telunjuk nabi sampai bergetar.

Perbedaan itu pasti terjadi, bahkan sejak dari level shahabat ketika meriwayatkan sudah muncul perbedaan.

3. Faktor Perbedaan Logika

Masih ingat hadits tentang mana duluan yang harus menyentuh tanah ketika sujud, apakah tangan dulu atau lutut lebih dahulu?

Di dalam masalah itu para ulama berbeda pendapat tanpa ada habisnya. Yang satu bilang tangan dulu. Yang lain bilang lutut dulu. Dan ternyata keduanya punya dalil masing-masing. Dan anehnya, kedua belah pihak memakai hadits yang itu-itu juga.

Yang satu bilang bahwa hadits itu mengatakan jangan seperti unta mau duduk. Dan disebutkan bahwa kalau unta mau duduk, ternyata yang menyentuh tanah kaki belakangnya terlebih dahulu.

Yang satu tidak mau kalah, mereka bilang bahwa pendapat itu tidak benar. Yang benar adalahkalau unta mau duduk, yang lebih dahulu menyentuh tanah adalah kedua kaki depannya terlebih dahulu.

Maka perbedaan pendapat itu bukan pada haditsnya, tapi pada cara kita memahaminya. Ada yang mengira bahwa kalau unta mau duduk, yang menyentuh tanah terlebih dahulu adalah kedua kaki belakangnya, dan ada yang berpendapat sebaliknya.

Jadi mana yang benar?

Yah, mari kita tanya kepada si unta yang tidak berdosa itu.”Pak Unta, mohon maaf nih, kami mau tanya. Ente kalau duduk, duluan mana kaki depan apa kaki belakang?” Untanya bingung ditanya begitu, terus dia jawab, “Emang gue pikirin.”

4. Faktor Mental

Tapi yang paling mengenaskan dari apa yang anda alami sebagai kecemasan, sebenarnya bukan karena faktor-faktor di atas, melainkan justru faktornya ada pada diri kita sendiri sebagai umat Islam. Banyak dari kita sering memaksakan kehendak dan pendapatnya sendiri dalam masalah furu’iyah dan ritual shalat.

Faktor ini kami rasakan merupakan faktor yang paling dominan untuk membuat umat semakin bingung. Mohon maaf kalau kami katakan banyak ustadz yang sambil mengajar, sambil memenangkan satu pendapat saja. Dan sayangnya beliau-beliau yang terhormat dan jadi panutan umat itu terjebak untuk melecehkan pendapat yang lain. Sengaja atau tidak sengaja.

Terkadang kita harus mengurut dada, karena yang kita saksikan bukan sekedar melecehkan, tapi sampai menuduh sesat, bid’ah, khurafat bahkan sampai di bilang tidak akan masuk surga. Laa haula wala quwwaa illa billah.

Kayaknya surga itu milik bapak moyangnya sendiri, orang lain tidak boleh masuk kecuali bila jadi muridnya dulu.

Padahal urusannya cuma antara jari telunjuk bergoyang atau tidak bergoyang. Bayangkan, urusan goyang-goyang bisa jadi masuk neraka. Pantas saja umat pada bingung, sudah mereka jarang ngaji, eh begitu ngaji, langsung diberi kisah-kisah ‘horor’ yang menakutkan. Akhirnya, muncul pertanyaan prihatin kayak anda ini, kok mau shalat saja susah sekali ya, sampai pakai masuk neraka segala?

Mungkin kalau kami kutipkan bahwa ada ulama yang tega-teganya memvonis orang yang shalat tarawih lebih dari 11 rakaat sebagai pelaku bid’ah dan masuk neraka, boleh jadi rambut anda akan berdiri semua, saking kagetnya. Iki piye tho, lha wong tidak shalat tarawih saja tidak apa-apa, kok orang sudah shalat malah dibilang masuk neraka? Aneh bin ajaib.

Padahal kalau kita pinjam argumentasi teman-teman yang shalat tarawihnya 20 rakaat, mereka akan bilang, “Justrudi zaman shahabat, belum pernah ada yang shalat tarawih hanya 11 rakaat, semua shalat tarawih 20 rakaat.”

Atau ada yang nyeletuk, “Opo sampeyan mau bilang kanjeng sayyidina Umar, Utsman dan Ali serta semua shahabat nabi SAW itu ahli bid’ah dan semuanya masuk neraka? Kesahalahannya hanya karena mereka shalat tarawih 20 rakaat?

Dan akhirnya semua ribut lagi, masing-masing datang dengan argumentasinya, dan tidak selesai-selesai.

Padahal sebenarnya kalau setiap perbedaan pendapat itu kalau disikapi dengan elegan, dewasa, wawasan luas dan beretika santun, tidak harus menimbulkan kecemasan seperti yang anda alami.

Intinya, alangkah indahnya kalau para ustadz yang selalu dijadikan sebagai sumber rujukan agama itu tidak terlalu mudah mengeluarkan vonis mematikan. Sehingga terkesan muncul anggapan bahwa beliaumau menangnya sendiri. Kenapa tidak dikatakan bahwa ada begitu banyak pendapat dalam suatu masalah, silahkan pilih yang mana, asalkan masih ada jejak ijtihad yag dilakukan oleh seorang yang punya kapasitas sebagai mutahid.

Khalifah Umar bin Abdul Aziz ketika mengetahui bahwa para shahabat nabi radhiyallahu ‘anhum banyak berbeda pendapat, justru beliau bersyukur dan berterima kasih. Bukannya malah sempit hati dan marah-marah. Karena dengan begitu banyaknya pendapat, agama ini menjadi luas sekaligus luwes. Mana saja yang mau kita pakai, ada rujukannya dari para shahabat nabi SAW yang telah Allah SWT ridhai.

Terakhir, mari kita belajar agama ini dari berbagai sumber, sekiranya bisa dari berbagai kalangan ulama, maka akan semakin baik, karena wawasan kita akan semakin kaya. Dan tidak mudah menyalahkan orang lain.

Tapi kalau tidak mampu belajar perbandingan mazhab, bisanya cuma dari satu ustadz saja, tidak apa-apa juga. Asalkan jangan mudah menyalahkan ijtihad orang lain. Sebab pendapat yang kita pakai itu sebenarnya juga hanya ijtihad, tidak lebih.

Maka sesama ijtihad dilarang saling mendahului, pinjam istilah bus kota.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Rumah
Fiqih
Indonesia

 

 

Share on FacebookEmail this to someoneShare on LinkedInShare on Google+Share on TumblrShare on StumbleUponTweet about this on Twitter

Related Posts:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>