بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”


Jika kita perhatikan dalam kamus, arti kata islam tidak keluar dari makna inqiyad (tunduk) dan istislam (pasrah). (al-Mu’jam al-Wasith, 1/446).

Diantara penggunaan makna bahasa ini, Allah sebutkan dalam al-Quran ketika menceritakan penyembelihan Ismail yang dilakukan Nabi Ibrahim,


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”


Ilustrasi (inilah.com)

Ada banyak sahabat Rasulullah SAW yang gagah berani. Salah satunya adalah sahabat Abbad bin Bisyir bin Waqasy. Ia pernah ditembus tiga anak panah berturut-turut saat salat. Semua tak membuat ia membatalkan salatnya.


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”


Ilustrasi (www.inilah.com)

INILAHCOM, Jakarta—Abdullah bin Zaid bin Tsalabah adalah sahabat Nabi dari suku Khajraz yang menyaksikan bai’at Aqabah kedua. Ia ikut dalam perang badar dan menyaksikan kehancuran dahsyat kaum Quraisy yang saat itu jumlahnya tiga kali kaum Muslim.


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”


Kisah ini cerita seputar Perang Tabuk. Semua sahabat berlomba-lomba mencapai kesempurnaan di sisi Allah. Utsman bin Affan menyumbangkan hartanya senilai Rp2,4 triliun!

Seperti disebutkan sebelumnya, pada perang Tabuk 30.000 pasukan muslim harus berperang melawan 200.000 pasukan Romawi. Saat itulah Rasulullah SAW meminta tiap muslim untuk berkontribusi.


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”


Yasir bin Amir, ayahanda Ammar, berangkat meninggalkan negerinya di Yaman guna mencari dan menemui salah seorang saudaranya. Rupanya ia berkenan dan merasa betah tinggal di Makkah. Bermukimlah ia di sana dan mengikat perjanjian persahabatan dengan Abu Hudzaifah ibnul Mughirah.


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”


cover-kisah-islami

Pada awal sejarah Islam, Abdullah bin Ummi Maktum memperoleh hidayah untuk bergabung bersama orang-orang yang telah memeluk Islam.

Top